Minggu, 16 November 2014

Aku diam

"Mungkin usai kamu membaca tulisanku, aku sudah tak berada di kota ini"


 Aku menulis ini ketika aku sadar tak akan ada yang bisa dikembalikan seperti dulu lagi. Aku menulis ini ketika aku berpikir bahwa sekarang kamu pasti telah menemukan seseorang yang baru.

saat aku terdiam ditermenung
orang yg kusayangi tak ayalnya manis di depan, di belakang menikam
perlahan sudah mulai terkuak sifatnya,
dikatainya aku dengan kata-kata menghunus pedang,
setiap bertemu sering kali debat,salah paham
meski menurutnya hal tersebut hanya sebuah diskusi biasa, dan kata-kata tajam menurutnya biasa saja
dia memang gadis yg menguji kesabaranku..
dimata keluarganya, aku selalu di bandingkan dengan laki-laki lain.
dalam sikap, berbicara dan semua yang ada di kehidupanku.
aku tahu, aku tak ada apa-apanya di banding laki-laki itu kuakui
namun aku berusaha menutupi kekuranganku
sempat putus asa, ketika keadaan mulai berbalik arah
dia menghilang ketika aku terjatuh
entah, apa alasannya..
semoga dia menyadari dan kembali
hanya padaku

Aku yang selalu berdoa
ketika kamu mulai terpejam

berhening sejenak

"Mungkin usai kamu membaca tulisanku, aku sudah tak berada di kota ini"

(Jombang, 17 November 2014) 

Inspired by Dwitasarii


Aku menulis ini ketika aku sadar tak akan ada yang bisa dikembalikan seperti dulu lagi. Aku menulis ini ketika aku berpikir bahwa sekarang kamu pasti telah menemukan seseorang yang baru.

 Beberapa minggu yang lalu, aku begitu percaya diri dan begitu memercayai bahwa kamu hanya memiliki aku; aku satu-satunya di hatimu. Namun, ternyata, aku pun bisa salah. Salah mengartikan isyarat yang kauberikan. Harusnya aku menyadari bahwa terlalu tinggi jika mengharapkan kamu berada di sisiku, terlalu mimpi jika menginginkan kamu menjadikanku pertama dalam hatimu, dan terlalu tolol menganggap perhatianmu yang ternyata tak benar-benar diberikan untukku.
 Ah, sudahlah.. Kau juga tak ingat dengan janji yang kau ucapkan untukku, dipelukanku kau ucapkan "jangan tinggalkan aku", kenyataannya hanya ironis. Sekarang tinggal omong kosong. Mungkin, ini berlebihan. Tentu saja kau pikir ini sangat berlebihan karena kamu tak ada dalam posisiku, kamu tak merasakan sesaknya diposisiku. kau memintaku berjanji, tapi kau sendiri tak mengindahkan janji itu. Betapa aku berjuang mati-matian mempertahankanmu tapi kau pura-pura tuli dengan egomu sendiri.
Mengapa semua jadi serumit ini?
Aku sering duduk di tempat kita pertama kali bertemu. Tempat yang harusnya menjadi kenangan kita berdua. Kamu memilih pergi tanpa alasan yang benar-benar kupahami. Kamu memilih pergi, ketika aku mulai menyayangimu dan terus ingin memperjuangkan kamu.
Aku masih tak percaya dengan kenyataan ini. Begitu mudahnya kau berpaling dan menghilang.
Aku akan teguh pada janjiku, tak akan meninggalkanmu dalam keadaan apapun. Sampai maut menjemputku dipersimpangan ujung jalan. dan sampai kau benar-benar membuka mata kamu dan sadar. Hanya aku, ya.. hanya aku.




Dari Aku yang selalu menunggumu    
    di Alun-alun